Selasa, 02 Juli 2013

PENDAPAT KEBIJAKAN DEVIDEN

2.1. Pendapat  Kebijakan Dividen

Kebijakan deviden merupakan  bagian yang  tidak dapat dipisahan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Secara definisi, kebijakan deviden adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk deviden atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan dating. Pendapatan bagi pemegang saham yang akan dibayarkan pada setiap akhir periode sesuai dengan persentasenya disebut dengan Deviden.dan persentase dari laba yang akan dibagikan sebagai deviden kepada pemegang saham juga disebut dengan “ Deviden Payout Ratio” (DPR).
Ada berbagai pendapat tentang kebijakan dividen sebagai berikut :

2.2. Teori  Dividen  Tidak  Relevan dari  Modigliani  dan  Miller.

Menurut  Modigliani  dan  Miller  (MM),  nilai  suatu  perusahaan  tidak  ditentukan  oleh  besar  kecilnya  presentase laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai atau DPR (Dividen Payout  Ratio) ,  tapi  ditentukan  oleh  laba  bersih  sebelum  pajak  atau EBIT (Earning  Before Interest and Tax)  dan  kelas  risiko  perusahaan.  Jadi  menurut  MM,  dividen  adalah  tidak  relevan.
Pernyataan  ini  didasarkan  pada  beberapa  asumsi  penting  yang  lemah seperti  : (1) Pasar  modal  sempurna  dimana  semua  investor  adalah  rasional, (2) Tidak  ada  biaya  emisi  saham  baru  jika  perusahaan  menerbitkan  saham  baru, dan (3) Tidak  ada  pajak Kebijakan  investasi  perusahaan  tidak  berubah.
Sedangkan kenyataannya :  (1) Pasar  modal  yang  sempurna  sulit  ditemui, (2) Biaya  emisi  saham  baru  pasti  ada, (3) Pajak  pasti  ada, dan (4) Kebijakan  investasi  perusahaan  tidak  mungkin  tidak  berubah.

2.3. Teori  Dividen yang Relevan

Teori ini menyatakan  bahwa  biaya  modal  sendiri  perusahaan  akan  naik  jika  presentase laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk uang tunai atau DPR (Dividen Payout  Ratio)   rendah,  karena  investor  lebih  suka  menerima  dividen  dari  pada  Perolehan modal (Capital  Gains).  Investor  memandang  keuntungan dividen (dividend  yield)  lebih  pasti  dari  pada  keuntungan capital gains (capital  gains  yield).  Perlu  diingat  bahwa  dilihat  dari  sisi  investor,  biaya  modal  sendiri  dari  laba  ditahan adalah  tingkat  keuntungan  yang  disyaratkan  investor  pada  saham.  Laba ditahan  adalah  keuntungan  dari dividen  ( dividend  yield )  ditambah  keuntungan  dari  capital  gains ( capital  gains  yield ).

2.4. Teori  Perbedaan  Pajak (Tax  Differential  Theory)

Teori  ini  menyatakan  bahwa  karena  adanya  pajak  terhadap  keuntungan  dividen  dan  capital  gains,  para  investor  lebih  menyukai  capital  gains  karena  dapat  menunda  pembayaran pajak.  Oleh  karena  itu investor  mensyaratkan  suatu  tingkat  keuntungan  yang  lebih  tinggi  pada  saham  yang  memberikan  dividend  yield  tinggi,  capital  gains  yield  rendah  dari  pada  saham  dengan  dividend  yield  rendah,  capital  gains  yield  tinggi.  Jika  pajak  atas  dividend  lebih  besar  dari  pajak  atas  capital  gains,  perbedaan  ini  akan  makin  terasa.
Jika  manajemen  percaya  bahwa  teori  Dividen  tidak  relevan  dari  MM  adalah  benar,  maka  perusahaan  tidak  perlu  memperdulikan  berapa  besar  dividen  yang  harus  dibagi,  tapi jika  mereka  menganut  teori  Dividen yang relevan, maka mereka  harus  membagi  seluruh  laba setelah pajak atau EAT (Earnig After Tax)  dalam  bentuk  dividen. 

2.5. Teori  Signaling  Hypothesis.

Ada  bukti  empiris  bahwa  jika  ada  kenaikan  dividen,  sering  diikuti  dengan  kenaikan  harga  saham.   Sebaliknya  penurunan  diveden   pada  umumnya  menyebabkan  harga  saham  turun.  Fenomena  ini  dapat  dianggap  sebagai  bukti  bahwa  para  investor  lebih  menyukai  dividen  dari  pada  capital  gains.  Tapi  MM  berpendapat  bahwa  suatu  kenaikan  dividen  yang  diatas  biasanya  merupakan suatu  tanda  kepada   para  investor  bahwa  manajemen  perusahaan  meramalkan suatu  penghasilan  yang  baik  dividen  masa  mendatang.  Sebaliknya,  suatu  penurunan  dividen  atau  kenaikan  dividen  yang  dibawah  kenaikan normal (biasanya )  diyakini  investor  sebagai  suatu  tanda  bahwa  perusahaan  menghadapi  masa  sulit  dividen  waktu  mendatang.

2.6. Teori  Clientele  Effect.

Teori  ini  menyatakan  bahwa  kelompok  (clientele)  pemegang  saham  yang  berbeda  akan  memiliki  preferensi  yang  berbeda  terhadap  kebijakan  dividen  perusahaan. Kelompok  pemegang  saham  yang  membutuhkan  penghasilan  pada  saat  ini  lebih  menyukai  suatu  presentase laba yang dibayarkan atau DPR (Dividend  Payout  Ratio)  yang  tinggi.  Sebaliknya  kelompok  pemegang  saham  yang  tidak  begitu  membutuhkan  uang  saat  ini  lebih  senang  jika  perusahaan  menahan  sebagian  besar  laba  bersih  perusahaan. Jika  ada  perbedaan pajak  bagi individu, maka  pemegang  saham  yang  dikenai  pajak  tinggi  lebih  menyukai  perolehan modal (capital  gains)  karena  dapat  menunda  pembayaran  pajak.   Kelompok  ini  lebih  senang  jika  perusahaan  membagi  dividen  yang  kecil.  Sebalinya  kelompok  pemegang  saham  yang  dikenai  pajak  relatif  rendah  cenderung  menyukai  dividen  yang  besar.

Bukti empiris  menunjukkan  bahwa  efek  dari  Clientele ini  ada.  Tapi  menurut  MM  hal  ini  tidak  menunjukkan  bahwa  lebih  baik  dari  dividen  kecil,  demikian sebaliknya.   Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang.  Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financing.   Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh,  maka kemampuan pembentukan dana intern akan semakin besar.  Dengan demikian kebijakan dividen ini harus dianalisa dalam kaitannya dengan keputusan pembelanjaan atau penentuan struktur modal secara keseluruhan.

1 komentar:

  1. Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering diikuti dengan kenaikan harga saham. pojokinvestasi.com

    BalasHapus