Kamis, 20 Juni 2013

dampak prilaku asertif

A.     Dampak Perilaku Asertif
Perilaku asertif seseorang dapat menimbulkan dampak seperti :
1.      Tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi yang kita alami, dan orang lain juga memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
2.      Tidak berperilaku agresif pada orang lain, bahkan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka.
3.      Kedua belah pihak yang berkomunikasi merasa nyaman, tidak ada yang ingin menyakiti lawan bicaranya dan tidak ada yang merasa disakiti hatinya.
4.      Tidak ada pihak yang merasa disalahkan dan dihina oleh keberadaan emosi negatif yang dirasakan oleh lawan bicaranya.
5.      Lawan bicara tidak terpancing untuk memberikan respons emosional.

B.      Cara Menumbuhkan Perilaku Asertif
Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain :
1.      Berusahalah dan biasakanlah berbicara dengan rasa percaya diri.
2.      Berusahalah dan biasakanlah mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan jelas pada orang lain.
3.      Biasakanlah memandang wajah orang yang Anda ajak bicara.
4.      Biasakanlah mengungkapkan pendapat kita secara jujur dan terbuka pada orang lain.
5.      Apabila Anda tidak ingin melakukan suatu pekerjaan maka katakan “tidak” (dengan kata-kata, nada, alasan yang bisa dimengerti serta diawali “maaf”).
6.      Responslah emosi Anda dengan cara yang sehat untuk menghindari perilaku agresif.

Beberapa Langkah untuk Merespons Emosi Secara Sehat
  1. Sadarilah emosi Anda, perhatikan emosi apa yang Anda rasakan. Misalnya : Apakah Anda takut? Apakah Anda senang?
  2. Akuilah emosi Anda : Perhatikan emosi apa yang Anda rasakan dan kira-kira seberapa kuat.
  3. Selidikilah emosi Anda tersebut tanpa ada penilaian. Katakan “Saya merasa terlalu tegang, jangan-jangan saya akan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin untuk dikatakan”.


pentingnya asertif

PENTINGNYA ASERTIF

A.     Pengertian Asertif
Asertif adalah kemampuan untuk mengomunikasikan pikiran, perasaan dan keinginan secara jujur pada orang lain tanpa merugikan orang lain.
Apabila kita mampu mengungkapkan perasaan negatif (marah, jengkel) secara jujur sesuai dengan apa yang kita rasakan tanpa menyalahkan orang lain, maka kita telah mampu berperilaku asertif. Berperilaku asertif, tidak hanya terbatas untuk mengungkapkan perasaan yang positif (senang) tetapi juga yang negatif.
AGRESIF : lawan dari asertif = perilaku menyerang orang lain dengan kata-kata yang kasar, mempermalukan, merendahkan, melecehkan, menyalahkan, marah-marah yang cenderung merugikan orang lain.
NON ASERTIF : tidak mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain dengan tidak mengatakan apapun dan menggerutu dalam hati yang sama sekali tidak dipahami oleh orang lain.

B.      Karakteristik Orang Asertif
Orang yang berperilaku asertif memiliki karakteristik antara lain :
1.      Mampu dan terbiasa mengekspresikan pikiran dan perasaan pada orang lain.
2.      Meminta pertolongan pada orang lain pada saat membutuhkan pertolongan.
3.      Sering bertanya pada orang lain pada saat sedang bingung.
4.      Pada saat berbeda pendapat dengan orang lain, mampu mengungkapkan pendapatnya secara jujur dan terbuka.
5.      Memandang wajah orang yang diajak bicara pada saat berbicara dengannya.
6.      Pada saat tidak ingin melakukan sesuatu pekerjaan, mampu berkata tidak.

C.      Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif
Faktor pengalaman masa kanak-kanak. Faktor tersebut dapat mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain :
1.      Apabila pada masa kanak-kanak terbiasa takut untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan karena takut orang lain tidak menyukai kita dan takut mengecewakan orang lain, maka hal ini dapat mengakibatkan kita berperilaku non asertif ketika dewasa.
2.      Bila pada masa kanak-kanak, kita terbiasa meluapkan emosi tanpa kontrol maka hal ini mengakibatkan kita berperilaku agresif ketika dewasa.

3 Pola Interaksi
Ada 3 pola interaksi yang terbentuk sebagai hasil pengalaman pada masa kanak-kanak, yaitu :
  1. I’m not OK – You’re OK
Saya tidak OK – kamu OK, maksudnya adalah : saya harus yakin bahwa apa yang saya katakan tidak akan menyinggung perasaanmu. Pola interaksi ini merupakan perilaku non asertif, karena membiarkan diri kita pasif dengan alasan takut mengecewakan orang lain.
  1. I’m OK – You’re not OK
Saya OK – kami tidak OK. Maksudnya : orang lain patut mendapatkan kemarahan dan hinaan dari saya. Pola ini merupakan perilaku agresif, karena bila kita membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang telah kita katakan.
  1. I’m OK – You’re OK
Saya OK – kamu OK. Maksudnya : saya bebas mengungkapkan apa yang saya rasakan dan saya bertanggung jawab terhadap perasaan saya. Pola interaksi ini merupakan perilaku asertif karena kita bebas mengungkapkan apa yang kita rasakan tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman

Senin, 17 Juni 2013

1.Membeli Atau Membuat Sendiri (Make Or Buy Decision)

Keputusan membeli atau membuat sendiri dihadapi oleh manajemen terutama dalam perusahaan yang produknya terdiri dari berbagai komponen dan yang memproduksi berbagai jenis produk. Tidak selamanya komponen yang membentuk suatu produk harus diproduksi sendiri oleh perusahaan, jika memang pemasok luar dapat memasok komponen tersebut dengan harga yang lebih murah daripada biaya untuk memproduksi sendiri komponen tersebut.
Oleh karena itu, salah satu pemicu timbulnya pertimbangan untuk membeli atau memproduksi sendiri adalah penawaran harga dari pemasok luar untuk suatu komponen produk yang berada dibawah biaya produksi sendiri komponen tersebut. Pertimbangan untuk membeli atau membuat sendiri dapat juga timbul sebagai akibat adanya taksiran penghematan biaya jika suatu komponen yang sebelumnya dibeli dari pemasok luar direncanakan akan dibuat sendiri oleh perusahaan.
Keputusan membeli atau membuat sendiri dapat dibagi menjadi dua macam:
a.       Keputusan membeli atau membuat sendiri yang dihadapi oleh perusahaan yang sebelumnya memproduksi sendiri produknya, kemudian mempertimbangkan akan membeli produk tersebut dari pemasok luar.
b.      Keputusan membeli atau membuat sendiri yang dihadapi oleh perusahaan yang sebelumnya membeli produk tertentu dari pemasok luar, kemudian mempertimbangkan untuk memproduksi sendiri produk tersebut.
Keputusan membeli atau membuat sendiri tipe pertama umumnya merupakan keputusan manajemen jangka pendek, yang tidak menyangkut investasi jangka panjang. Dua kemungkinan yang dihadapi oleh manajemen dalam pengambilan keputusan ini:
a.       Fasilitas yang digunakan untuk memproduksi tidak dapat dimanfaatkan jika produk dihentikan produksinya karena manajemen memilih alternatif membeli dari luar. Untuk pengambilan keputusan, manajemen perlu memperhitungkan pengorbanan dan manfaat dari pemilihan alternatif membeli atau membuat sendiri. Jika perusahaan sebelumnya membuat sendiri kemudian mempertimbangkan akan membeli dari luar, manfaat dari pemilihan alternatif membeli dari luar adalah besarnya biaya diferensial yang berupa biaya yang terhindarkan (avoidable cost) jika kegiatan membuat sendiri dihentikan. Pengorbanan dari pemilihan alternatif membeli dari luar adalah sebesar biaya diferensial yang berupa biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk dari pemasok luar. Jika manfaat lebih besar dari pengorbanan, alternatif membeli dari luar lebih menguntungkan jika dipilih. Sebaliknya, jika manfaat lebih kecil dari pengorbanan, alternatif membeli dari luar sebaiknya tidak dipilih.

              Fasilitas yang digunakan untuk memproduksi dapat dimanfaatkan untuk usaha lain yang mendatangkan laba, jika produk dihentikan produksinya, karena manajemen memilih alternatif membeli dari luar. Dalam pengambilan keputusan ini, disamping manajemen mempertimbangkan biaya diferensial, perlu pula mempertimbangkan pendapatan diferensial sebagai hasil pemanfaatan fasilitas yang dihentikan pemakaiannya dalam bisnis lain.
               Jika perusahaan sebelumnya membuat sendiri kemudian mempertimbangkan akan membeli dari luar, manfaat dari pemilihan alternatif membeli dari luar adalah besarnya biaya diferensial yang berupa biaya yang terhindarkan (avoidable cost) jika kegiatan membuat sendiri dihentikan dan pendapatan diferensial dari pemanfaatna fasilitas dalam usaha lain.
              Pengorbanan dari pemilihan alternatif membeli dari luar adalah sebesar biaya diferensial yang berupa biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk dari pemasok luar. Jika manfaat lebih besar dari pengorbanan, alternatif membeli dari luar lebih menguntungkan jika dipilih. Sebaliknya, jika manfaat lebih kecil dari pengorbanan, alternatif membeli dari luar sebaiknya tidak dipilih. Berbagai alternatif yang kemungkinan dihadapi oleh manajemen dalam pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri.






1.      Berbagai alternatif yang kemungkinan dihadapi oleh manajemen dalam pengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri.

Gambar2.1

Baganpengambilan keputusan membeli atau membuat sendiri.
Selaraskan Ucapan Dalam Sholat Dengan Kehidupan Nyata

Di dalam sholat seorang muslim pasti membaca surah Al-Fatihah. Bahkan dia wajib mengucapkannya. Sebab tidak sah sholat seseorang jika tidak membacanya. Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ
Ubadah bin ash-Shamit mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur’an (surah Al-Fatihah).” (HR Muslim – Shahih)

Perlu diketahui bahwa di dalam surah yang mulia ini ada satu permohonan doa kepada Allah subhaanahu wa ta’aala yang diucapkan seorang muslim. Itulah permohonan yang berbunyi:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS Al-Fatihah 6)
Selanjutnya si muslim tersebut menegaskan jalan yang lurus itu jalan yang seperti apa. Ia kemudian membaca ayat berikut:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah 7)
Ia menegaskan bahwa jalan yang lurus merupakan jalan orang-orang yang telah dianugerahi Allah nikmat kepada orang-orang yang telah menempuhnya. Siapakah mereka? Allah subhaanahu wa ta’aala jelaskan di dalam Kitabullah. Mereka adalah orang-orang yang masuk ke dalam kategori salah satu dari empat golongan manusia.
وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًاوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“… dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa 68-69)
Jadi, orang-orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Allah sepanjang perjalanan panggung sejarah ialah para Nabi, para shiddiqiin (orang-orang yang selalu jujur), orang-orang yang mati syahid serta orang-orang sholeh. Inilah yang dimohonkan seorang muslim tatkala ia sedang sholat. Inilah cita-cita tertinggi seorang muslim. Ia sangat berkeinginan dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang mulia tersebut. Ia ingin dikumpulkan bersama mereka. Sebab merekalah orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus. Sebab mereka adalah orang-orang yang senantiasa mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan karena mereka merupakan teman yang sebaik-baiknya, di dunia maupun di akhirat.
Selanjutnya si muslim berlindung kepada Allah subhaanahu wa ta’aala agar dirinya tidak berada di atas jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Siapakah yang dimurkai oleh Allah subhaanahu wa ta’aala? Siapakah yang tersesat dari jalan yang lurus? Perhatikanlah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam berikut ini:
الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ
Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam  bersabda: “Sesungguhnya Yahudi dimurkai sedangkan Nasrani sesat.” (HR Tirmidzi  - shahih)
Jelas berdasarkan hadits di atas bahwa jalan mereka yang dimurkai Allah ialah jalan kaum yahudi. Sedangkan jalan mereka yang tersesat ialah jalan kaum nasrani. Di dalam kitab tafsirnya Ibnu Katsir mengomentari ucapan Nabi di atas. Ibnu Katsir bilang bahwa kaum yahudi dimurkai karena mereka punya ilmu tetapi tidak mau beramal sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Adapun kaum nasrani disebut sesat karena mereka banyak beramal tetapi tidak berlandaskan ilmu yang benar.
Jika kita kaitkan kondisi dunia modern dewasa ini dengan peranan kaum yahudi dan nasrani, maka kita teringat dengan sebuah hadits Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Di dalamnya Nabi memberikan prediksi bahwa akan datang suatu zaman dimana orang-orang yang mengaku muslim menjadi pengekor kaum yahudi dan nasrani. Sedemikian rupa sehingga kaum muslimin terjerembab ke dalam lubang biawak bersama kaum yahudi dan nasrani yang mengajak mereka masuk ke dalamnya.
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْشِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا
فِي جُحْرِ ضَبٍّلَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?“ (HR Muslim – shahih)
Dunia modern adalah suatu dunia di bawah kepemimpinan “peradaban barat”. Peradaban barat ialah Eropa dan Amerika. Eropa dan Amerika tidak lain ialah “masyarakat yahudi dan nasrani”.
Bukan rahasia lagi bahwa dewasa ini sebagian besar orang yang mengaku muslim mengekor kepada kaum yahudi dan nasrani dalam banyak urusan hidupnya.  Mereka menunjukkan loyalitas kepada apapun yang ditawarkan oleh kaum yahudi dan nasrani. Padahal dengan tegas Allah subhaanahu wa ta’aala melarang sekaligus mengancam agar umat Islam tidak memberikan kesetiaan kepada kaum yahudi dan nasrani. Bila mereka menyerahkan kesetiaan kepada kaum yahudi dan nasrani, maka Allah subhaanahu wa ta’aala tidak lagi menilai mereka sebagai bagian dari orang-orang beriman. Tetapi Allah subhaanahu wa ta’aala mem-vonis mereka keluar dari tubuh keluarga besar kaum muslimin (baca: murtad) dan selanjutnya menjadi bagian dari kaum yahudi dan nasrani itu…! Na’udzubillahi min dzaalika….
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَبَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
 وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu serahkan wala’mu (loyalitasmu) kepada kaum Yahudi dan Nasrani; sebahagian mereka ber-wala’ kepada sebagian lainnya. Barang siapa di antara kamu menyerahkan wala’nya kepada mereka, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Maidah 51)
Berarti tindakan seorang muslim menyerahkan loyalitasnya kepada kaum yahudi dan nasrani termasuk dapat menyebabkan dirinya terjangkiti virus murtad tanpa sadar…! Atau dalam istilah para ulama terdahulu termasuk penyakit nawaaqidhul iman(pembatal iman). Padahal dalam realitanya dewasa ini begitu banyak orang yang mengaku muslim menyerahkan loyalitasnya kepada kaum yahudi dan nasrani. Mereka memakai sistem politik, ekonomi, hukum, kemasyarakatan, budaya, militer yang berasal dari kaum yahudi dan nasrani. Bahkan mereka dengan setianya membela ideologi produk kaum yahudi dan nasrani seperti misalnya ideologi pluralisme, sekularisme, liberalisme, nasionalisme, humanisme, hedonisme dan demokrasi.
Sungguh ironis..! Di dalam sholat orang-orang yang mengaku muslim itu memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’aala agar ditunjuki ke jalan yang lurus. Jalan para Nabi, shiddiqiin, syuhada dan sholihiin. Mereka berlindung kepada Allah dari jalan kaum yahudi yang dimurkai Allah subhaanahu wa ta’aala dan jalan kaum nasrani yang tersesat. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka menjalankan cara hidup kaum yahudi dan nasrani. Bahkan mereka sedemikian setianya kepada kaum yahudi dan nasrani sehingga membelanya seolah itulah cara hidup milik kaum muslimin sendiri. Malah mereka merasa asing dan terkejut jika ditunjuki dan dijelaskan cara hidup Islam yang sebenarnya dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.
Sungguh benarlah apa yang difirmankan Allah subhaanahu wa ta’aala di dalam Al-Qur’anul Karim:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang/rela kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (cara hidup) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu (kaum muslimin) mengikuti kemauan mereka (kaum yahudi dan nasrani) setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah 120)
Allah subhaanahu wa ta’aala menyingkap karakter dasar kaum yahudi dan nasrani. Bahwa mereka tidak akan senang dan rela kepada kaum muslimin sebelum kaum muslimin bersedia menjalani hidup di dunia berdasarkan cara hidup kaum yahudi dan nasrani. Kaum yahudi dan nasrani tidak suka melihat kaum muslimin mengikuti petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala dalam berbagai urusan hidup, seperti urusan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, militer dan lain sebagainya. Padahal justeru itulah Allah subhaanahu wa ta’aala menegaskan kepada kaum muslimin:
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى
“Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.
Petunjuk yang benar adalah petunjuk Allah bukan petunjuk kaum yahudi dan nasrani. Ingin berpolitik? Berpolitiklah menurut petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala bukan petunjuk kaum yahudi dan nasrani. Tegakkanlah mekanisme musyawarah yang menjunjung tinggi petunjuk Allah dan Rasul-Nya, bukan berpolitik melalui demokrasi yang sadar ataupun tidak sadar ingin menyingkirkan kedaulatan Allah dan berusaha dengan sia-sia menegakkan kedaulatan manusia atau rakyat. Ingin berekonomi? Berekonomilah menurut petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala bukan mengikuti petunjuk kaum yahudi dan nasrani. Mudahkan serta hidupkanlah jual-beli dan tinggalkanlah praktek riba dalam berbisnis. Ingin berhukum? Berhukumlah mengikuti petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala bukan petunjuk kaum yahudi dan nasrani. Tegakkanlah hukum Allah Yang Maha Adil berlandaskan kitabullah Al-Qur’an dan tinggalkanlah hukum buatan manusia yang penuh kezaliman dan kajahilan serta sarat kepentingan pribadi dan kelompok.
Kemudian di ujung ayat di atas Allah subhaanahu wa ta’aala mengakhiri dengan sebuah peringatan keras:
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
“Dan sesungguhnya jika kamu (kaum muslimin) mengikuti kemauan mereka (kaum yahudi dan nasrani) setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Perlukah kita heran melihat begitu banyak negeri kaum muslimin dewasa ini sepertinya tidak memperoleh perlindungan dan pertolongan Allah subhaanahu wa ta’aala? Jawabannya sangat jelas. Ini semua terjadi karena masih terlalu banyak orang yang mengaku muslim namun dalam realitas hidupnya lebih nyaman bahkan lebih bangga mengikuti petunjuk kaum yahudi dan nasrani dalam menata berbagai urusan kehidupannya. Mereka enggan untuk tunduk kepada petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala dan meneladani jalan hidup teladan ummat, yaitu Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam.
Sungguh, umat Islam perlu menyelaraskan ucapan dalam sholatnya dengan kehidupan nyata di luar sholatnya. Allah subhaanahu wa ta’aala sangat murka terhadap orang yang mengucapkan apa-apa namun tidak dikerjakannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff 2-3)